Sunday, June 13, 2010

Rokok, Merokok dan Perokok


Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin

Yup, kata-kata itu sudah pasti tercantum di mana iklan rokok terpampang. Entah itu di TV, spanduk, banner, di dunia offline maupun online.

Tapi yang menjadi sebuah kebingungan adalah, mengapa masih begitu banyak yang menghisap barang yang tidak menyehatkan tersebut. Tidak munafik, saya pun perokok, dan hampir setiap hari saya menyesali mengapa saya seperti ketergantungan untuk menghisap batang demi batang barang yang jelas-jelas menjadi sumber penyakit tersebut.


Mungkin disaat dirumah / sedang libur kuliah, saya hanya mengisap dua sampai lima batang rokok dalam sehari, namun ketika saya kuliah atau tidak berada di lingkungan rumah, saya dapat menghisap satu hingga dua bungkus rokok tiap harinya.

Hal tersebut dikarenakan di rumah saya dilarang untuk merokok oleh ibunda saya, walau sering kali "ketahuan", saya masih enggan terbuka soal merokok tersebut.

Coba lihat sekitar,  perokok termuda yang pernah anda lihat umur berapa?

Saya pernah melihat anak SD sudah merokok di suatu acara gigs / acara musik. Dan luar biasanya anak SD tersebut merokok Dji Sam Soe, yang biasanya di hisap oleh orang yang lebih tua dari saya. Saya pun tidak kuat untuk menghisap rokok tersebut.

Malah beberapa saat yang lalu sedang hangat-hangat nya pemberitaan dari dalam hingga luar negeri tentang seorang balita yang berasal dari indonesia, yaitu daerah Malang lebih tepatnya Jl Nusakambangan 19C, Kota Malang,  yang ketergantungan akan benda yang bernama rokok. Walah... lagi-lagi Indonesia disorot oleh pers luar negeri bukan karena prestasinya, malah dikarenakan seorang bocah yang sangat ketergantungan dengan rokok.

Menurut berita yang saya baca maupun saya tonton di berbagai media menyebutkan, bahwa saat anak perokok tersebut masih didalam kandungan, sang ibu mempunyai sebuah "penyakit" yang sering disebut ngidam yaitu menghisap benda tidak menyehatkan yaitu rokok. Dan setelah kelahirannya, sang ibu pun berhenti merokok, namun ironisnya yang meneruskan "penyakit" itu malah anak yang sudah lahir tersebut.

Tidak tinggal diam, salah satu televisi swasta pun bergerak untuk mencoba berbagai cara agar si balita perokok tersebut berhenti dari kebiasaan merokoknya. Hingga sang pencipta KOMO (kak seto) pun bergerak dan mengambil tindakan yang saya rasa sangat bagus, yaitu memberi kegiatan lain atau yang bisa disebut pengalih perhatian saat sang bocah perokok tersebut meminta rokok kepada ibunya.

Berhasil? Sedikit banyak berhasil, hanya tinggal niat dari ibunda nya saja yang bisa atau tidaknya mengatur si anak agar menghilangkan kebiasaan buruknya tersebut.

Rokok memang menjadi kontroversi di indonesia. Sempat teringat dibenak saya ketika MUI mencetuskan bahwa rokok atau merokok adalah kegiatan haram. Namun pemerintah masih ragu bahkan takut untuk menyetujui tindakan pelarang merokok tersebut. Mungkin hal ini disebabkan oleh faktor ekonomis dan sosial nya.

Berapa ribu karyawan dan buruh yang bekerja di perusahaan rokok yang harus di PHK apabila pelarangan rokok tersebut disetujui?

Berapa miliar rupiah setiap bulannya yang harus hilang dari pendapatan pajak (bea cukai rokok) apabila benda yang bernama rokok diharamkan dan dilarang di perjual belikan di indonesia?

Dan begitu banyak faktor lain yang mungkin harus dipikirkan dan dipertanggung jawabkan oleh pemerintah apabila pelarangan tersebut disetujui.

Dari bincang-bincang bersama kawan-kawan saya, nanti entah kapan, pemerintah akan melarang pengiklanan produk rokok di baliho-baliho / spanduk yang biasa kita lihat di jalan raya, juga terdengar kabar bahwa pengiklanan rokok dilarang di media televisi. Entah apa kabar itu hanya desas desus, atau akan terjadi dimasa depan.

Seperti yang saya sebutkan diatas, saya juga perokok, namun saya agak sedikit miris dengan kebebasan merokok di indonesia ini. Berbagai aturan mulai dari dilarang merokok ditempat umum, tempat khusus merokok di mall dan lain-lain hanyalah sekedar peraturan yang kemudian hari dengan mudahnya dilanggar. Coba lihat saat pemberlakuan peraturan tersebut baru keluar, begitu banyak razia dan pengawasan di tempat umum seperti mall, dan mari lihat saat ini, apakah masih segencar seperti saat pertama kali di keluarkan peraturan tersebut?

Bahkan kawasan tempat makan di mall masih banyak disediakan asbak yang berarti memperbolehkan atau mempersilahkan tamunya untuk bebas merokok asal membeli produk atau makanan yang dijual disana.

Yang lebih miris lagi, masih banyak tempat-tempat yang berhubungan dengan pendidikan seperti kampus, masih membebaskan mahasiswanya untuk merokok disekitar kawasan universitas atau kampus nya.

Apalagi kalau dikantin (kampus), sudah pasti dipenuhi asap-asap rokok yang dapat membuat tidak betah pembeli yang tidak merokok.

Saya juga sempat berbincang dengan kawan saya, mengapa indonesia masuk lima besar negara pengkonsumsi paling banyak sedunia. Menurut saya mungkin karena begitu mudah didapat dan dijual dengan sangat sangat sangat murah sekali. Jadi pelajar Sekolah Dasar pun dapat membelinya dengan cara ketengan ke toko-toko kecil. Penjual tidak akan atau pernah menanyakan umur dan sebagainya, dikarenakan belum ada penyuluhan bahwa penjual tidak boleh menjual rokok kepada anak dibawah umur. Di pikiran mereka mungkin "yang penting laku dan saya bisa mendapatkan uang untuk meneruskan kehidupan saya dan keluarga saya".

Apakah anda setuju apabila rokok di haramkan?

Atau paling tidak, apakah anda setuju apabila ada ada suatu peraturan yang sangat ketat tentang rokok dan merokok?


Silahkan dijawab sebijaksana dan searif mungkin :)
 
Copyright 2010 Bonard Alfin's Blog. All rights reserved.